Keroncong: Walau tak diminati La Paloma tetap pentaskan musik keroncong

image

PADANGPANJANG – Peminat dan penikmat musik keroncong pada zaman sekarang dapat dihitung dengan jari. Apalagi di kalangan muda, bisa dibilang musik keroncong tidak mendapat tempat.

Pendiri sekaligus pembimbing Orkes Keroncong (OK) La Paloma, Dede Kuantani, S.Sn.,M.Sn, mengatakan pada zaman sekarang ini tidak banyak lagi penikmat keroncong apalagi dikalangan muda. Tapi dengan adanya Orkes Kroncong  La Paloma jurusan Musik Institut Seni Indonesia Padangpanjang yang menggelar pertunjukan musik orkes  kroncong  di Gedung Teater Arena Mursal Esten ISI Padangpanjang menunjukkan  masih ada sejumlah mahasiswa di jurusan musik yang masih tertarik kepada musik keroncong. “Saya kira itulah awal  bangkitnya kembali OK La Paloma yang selama ini telah terkubur” ungkap Dede dalam rilis pers yang diterima padangmedia.com, Kamis (23/7).Acara pertunjukkan musik keroncong tersebut dilaksanakan baru – baru ini dalam rangka  ulang tahun OK La Paloma yang pertama sekaligus persiapan untuk konser di Aceh  pada 27-30 Mei mendatang.

Pada acara yang dibuka oleh Pembantu Rektor I Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Zulhelman ini, sebanyak 7 lagu dipersembahkan oleh OK La Paloma diantaranya, La Paloma, Sway, Rayuan Pulau Kelapa, Tanoh Aceh Loen Sayang, Bunga Parawitan, Bungong Jeumpa, dan Cafrinho. Lagu Tanoh Loen Sayang dibantu oleh Sulaiman Juned (penyair dan dosen ISI Padangpanjang) yang  membacakan puisi berjudul Aceh. Semua lagu tersebut juga akan dipentaskan di Aceh.Selain rangkaian tersebut juga ada beberapa pertunjukan lain yang dipersembahkan oleh HMJ dan komunitas-komunitas Seni, diantaranya pemutaran video La Paloma (HMJ Televisi), pertunjukan La guitarra (Ansambel Mayor Gitas Mahasiswa Musik), pertunjukan musik asli rakyat (HMJ Karawitan), pertunjukan Montain String Ansambel (Mahasiswa Musik) dan Pertunjukan Didong Kolaborasi Rapa’i, Seurune kalee dan baca puisi Sulaiman Juned Tanah Gayo oleh Kamunitas Seni Kuflet Padangpanjang. Suasana artistik yang berbeda dihadirkan, sementara di sekeliling gedung dipamerkan Karya seni Kriya (HMJ Kriya).

Sementara itu, Zulhelman menjelaskan, pertunjukan tersebut merupakan persiapan untuk konser di Aceh. Dengan adanya pertunjukan OK La Paloma di Aceh semoga mendorong ISBI Aceh cepat terselenggara pembangunannya.
“Selain itu, kegiatan seperti ini merupakan bagian dari pencitraan kampus untuk mengenalkan institusi ini kepada masyarakat diluar Sumatera Barat”terangnya.(der)

sumber : http://www.padangmedia.com/10-Berita/81948-Walau-Tak-Diminati-La-Paloma-Pentaskan-Musik-Keroncong-.html

Musik Keroncong

Orkes Keroncong La Paloma
Jln. Bundo Kanduang No 35 Padangpanjang, Sumatera Barat,Indonesia

Profil OK. La Paloma

Ketika mendengar musik Keroncong seolah-olah kita dibawa ke ranah ke-Jawa-an. Musik keroncong bukan lah perwakilan etnis Jawa, musik keroncong merupakan musik yang dibawa oleh budak-budak kapal Portugis yang pada masa VOC dimerdekakan dan diberi tempat tinggal di Kampung Toegoe, dan berkembang ke seluruh wilayah Nusantara, serta sudah menjadi milik bangsa Indonesia, boleh dimainkan oleh siapa saja dan dari etnis mana saja.

Orkes keroncong La Paloma yang bermarkas di jalan Bundo Kanduang No 35 Padangpanjang, Sumatera Barat, tepatnya berada di lingkungan Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang di bawah wadah Himpunan Mahasiswa Jurusan Musik, Fakultas Seni Pertunjukan. Kelompok musik ini sudah berdiri semenjak tahun 1980an yang digagas oleh buaya keroncong Dede Kuantani bersama rekan-rekannya di masa perkuliahannya di ASKI (Akademi Seni Karawitan Indonesia), diteruskan dari generasi ke generasi, tepatnya pada tanggal 20 Mei 2012 Tebentuk lagi dengan formasi sekarang.
Nama La Paloma diambil dari judul lagu latin “La Paloma” yang berarti “Merpati. Merpati berarti burung yang selalu menyampaikan pesan-pesan penting, burung yang tidak terlalu liar dan juga tidak terlalu jinak, meskipun burung ini selalu terbang jauh, berkelana dengan bebas, mengarungi kemana saja dia ingin terbang dan pada akhirnya akan pulang ke sangkar tempat dimana mereka tumbuh berkembang.

Ansambel musik OK. La paloma digawangi oleh 10 orang semrautan, diantaranya Nopen (Biola), Alunk (Flute), Awangsyah (Cak), Alex Gondrong (Cuk), Angga (Gitar), Keron (Cello), Richie (Bass), Risky (Vokal). Berbasis pengetahuan ilmu musik yang dimamah setiap hari mereka mengaransemen lagu-lagu keroncong, langgam, stambul, musik-musik latin, reportoar-reportoar klasik, folk song, serta dimainkan dengan instrumen musik keroncong dan style keroncong. Dan, tentunya dibina oleh buaya keroncong, pakar keroncong (Alm) Dede Kuantani yang banyak menciptakan dan mengaransemen musik keroncong untuk La Paloma sendiri.

Asumsi kebanyakan masyarakat tentang musik keroncong dengan instrumen gitar kecil dengan 4 buah senar, musik yang monoton, vokal yang mendayu-dayu. Namun, tidak begitu halnya dengan Orkes Keroncong (OK) La Paloma, ditangan anak-anak muda ini menjadikan musik keroncong menjadi musik yang enerjik, dan unik. 3 kali dalam seminggu beberapa anak muda yang semraut ini mau meluangkan waktu mereka untuk berproses, mencari, mengeksplorasi, memainkan musik keroncong, musik yang hari ini berada dalam masa “hibernasi” yang akut dengan gaya mereka, kas anak muda serta memberikan penawaran-penawaran untuk keseragaman selera musik hari ini khususnya generasi muda.

Pengalaman-pengalaman panggung yang pernah diikuti

1. Screening Film bersama HMJ Televisi dan Film.
2. Penutupan program SPA tahun 2012 di ISI Padangpanjang.
3. Pembukaan Pameran Lukisan Hidayat bersama komunitas Sarueh.
4. Musik Teater “sengketa” karya sutradara Afrizal Harun.
5. Musik Teater “RT 0 RW 0” karya Arifin C Noor sutradara Fitri Noveri.
6. Penutupan Diesnatalis ke 46 ISI Padangpanjang.
7. Hari Bela Negara PDRI di Ngalau Indah Payakumbuh bersama Komunitas seni INTRO Payakumbuh.
8. Nge-Jam Bareng Keroncong Toegoe Jakarta
9. Closing kegiatan Pertemuan Karya Mahasiswa Televisi Nasional di ISI Padangpanjang.
10. Gelar Gelar Karya bersama HMJ Televisi dan Film ISI Padangpanjang.
11. Peresmian HMJ Televisi dan Film ISI Padangpanjang.
12. Hiburan pesta perkawinan di Tiku Pariaman
13. Program rutin Pemda Sawahlunto dengan tajuk “Ngamen Asyik”.
Usaha OK. La Paloma ini tentunya perlu dukungan dari semua pihak untuk merevitalisasi kebudayaan musik “keroncong” yang satu-satunya ada di dunia, dan itu ada di Indonesia.